SOP Perusahaan: Tujuh Bagian Wajib dan Contohnya
SOP perusahaan mengunci urutan kerja tetap untuk satu proses. Pahami tujuh bagian wajibnya, dua contoh siap salin, dan cara membuatnya sungguh dipakai.
UGC adalah konten buatan pelanggan sendiri. Pahami bedanya dengan endorse berbayar, cara memintanya tanpa memaksa, dan aturan izin serta hak ciptanya.

UGC adalah singkatan dari user generated content, yaitu konten yang dibuat sendiri oleh pembeli tentang produk yang mereka beli, lalu dipakai ulang oleh pemilik usaha setelah mendapat izin. Bentuknya bisa foto barang yang baru sampai, video membuka paket, ulasan berbintang di marketplace, atau tangkapan layar chat berisi pujian. Satu hal yang membedakannya dari materi promosi lain: pembuatnya adalah orang yang benar-benar membayar dengan uangnya sendiri dan tidak menerima apa pun sebagai balasan atas kontennya.
Panduan ini ditulis untuk pemilik usaha kecil yang sudah punya pembeli, tetapi belum tahu konten dari pembeli itu boleh diapakan. Isinya mencakup bentuk UGC yang sudah ada di ponselmu sekarang, beda UGC dengan endorse berbayar dan iklan, alasan calon pembeli lebih percaya foto orang lain daripada fotomu, cara meminta konten tanpa membuat orang tidak enak, aturan izin dan hak cipta yang paling sering dilanggar pelaku usaha kecil di Indonesia, lalu cara memasang dan mengukur hasilnya. Bagian izin sengaja ditulis paling panjang, karena di situlah letak risiko yang paling mahal.
Kebanyakan pemilik usaha mengira UGC berarti video ala kreator TikTok. Padahal definisinya jauh lebih longgar. Selama kontennya dibuat oleh orang yang memakai produkmu, bukan oleh kamu atau orang yang kamu tugaskan, konten itu masuk kategori UGC. Foto blur yang dikirim pembeli lewat WhatsApp jam sebelas malam pun termasuk. Kualitas gambarnya bukan penentu.
Coba buka galeri dan riwayat chat usahamu sekarang. Kemungkinan besar kamu menemukan foto barang yang baru sampai di tangan pembeli, kiriman potret anak yang memakai baju daganganmu, rekaman pendek seseorang membuka kemasan, tangkapan layar ulasan bintang lima berisi kalimat spontan, tag di Story yang sudah hilang, dan komentar jujur di unggahan lama. Semua itu bahan yang sudah kamu punya dan belum dipakai. Tidak perlu bujet, tidak perlu jadwal pemotretan, tidak perlu menyewa siapa pun.
Perlu dibedakan sejak awal, UGC bukan pengganti foto katalog. Foto katalog tetap harus rapi, terang, dan menampilkan produk apa adanya, karena itu yang jadi wajah pertama toko. Cara membuatnya dengan modal ponsel saja sudah dibahas terpisah di panduan foto produk untuk marketplace. UGC bekerja di lapisan berikutnya, yaitu saat orang sudah tertarik dan mulai mencari bukti bahwa barangnya memang seperti di foto.
Ada satu bentuk UGC yang sering diabaikan padahal paling mudah dikumpulkan: ulasan tertulis. Ulasan tidak punya gambar, tidak enak dipandang, dan tidak bisa dijadikan konten Instagram tanpa diolah. Tetapi ulasan adalah satu-satunya bentuk UGC yang muncul otomatis di halaman produk dan di profil bisnis digital tanpa kamu pasang. Itu membuatnya bekerja bahkan saat kamu sedang tidur.
Banyak pelaku usaha memakai istilah UGC untuk sesuatu yang sebenarnya endorse. Perbedaannya bukan soal gaya video, melainkan soal arah uang. TikTok mendefinisikan konten berlabel komersial sebagai konten yang mempromosikan atau mengulas merek pihak ketiga beserta produk atau layanannya dengan imbalan pembayaran atau insentif lain, dan menyebut secara rinci bahwa yang termasuk di dalamnya adalah produk yang dihadiahkan oleh merek, merek yang pembuatnya dibayar untuk diposting, produk yang memberi komisi atas penjualan lewat tautan afiliasi atau kode promo, serta merek yang pernah punya hubungan komersial dengan pembuatnya seperti brand ambassador.
Bacalah daftar itu pelan-pelan, karena batasnya lebih ketat dari dugaan kebanyakan orang. Kamu mengirim produk gratis lalu orangnya membuat video? Itu bukan UGC. Kamu memberi kode diskon khusus agar orang mau memposting? Itu bukan UGC. Kamu menjanjikan komisi lewat tautan afiliasi? Itu juga bukan. UGC yang murni terjadi kalau orangnya membeli dengan uang sendiri, memposting karena mau, dan tidak menerima apa pun dari kamu sesudahnya.
| Pembanding | UGC | Endorse Berbayar | Iklan Berbayar |
|---|---|---|---|
| Siapa yang membuat | Pembeli asli, atas kemauan sendiri | Kreator atau selebgram yang kamu pilih | Kamu atau orang yang kamu bayar |
| Arah uang | Pembeli membayar kamu | Kamu membayar kreator | Kamu membayar platform |
| Kendali atas isi pesan | Hampir tidak ada, isinya apa adanya | Sebagian, lewat brief dan revisi | Penuh, semua kata kamu yang tulis |
| Wajib diberi label komersial | Tidak, selama benar-benar tanpa imbalan | Ya, wajib dinyatakan sebagai konten berbayar | Ya, sudah otomatis berlabel oleh platform |
| Biaya per konten | Rp0, biayanya cuma waktu meminta izin | Bervariasi menurut kesepakatan tarif | Bervariasi menurut lelang dan target |
| Kecepatan mendapatkannya | Lambat, menunggu pembeli bergerak sendiri | Cepat, sesuai tenggat di kesepakatan | Paling cepat, bisa tayang hari itu juga |
| Risiko utama | Dipakai tanpa izin sehingga melanggar hak orang lain | Isinya berlebihan lalu jadi klaim menyesatkan | Anggaran habis tanpa penjualan berarti |
| Paling berguna untuk | Meyakinkan orang yang sudah ragu di detik terakhir | Memperkenalkan produk ke pengikut orang lain | Menjangkau orang yang belum pernah dengar namamu |
Ketiganya bukan pilihan yang saling meniadakan. Iklan membawa orang datang, endorse memperkenalkan produk ke lingkaran yang belum mengenalmu, UGC meyakinkan orang yang sudah sampai halaman produk tetapi masih menimbang. Kalau kamu baru mampu satu, mulai dari UGC, karena biayanya nol dan bahannya sudah ada. Perhitungan tarif dan cara menulis kesepakatan untuk jalur berbayar dibahas terpisah di panduan endorse untuk usaha kecil, sedangkan skema komisi atas penjualan dibahas di panduan affiliate marketing.
Satu catatan yang berlaku khusus di Indonesia. Etika Pariwara Indonesia terbitan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia mengatur bahwa iklan di media sosial tidak boleh menggunakan media sosial pribadi untuk menayangkan iklan komersial kecuali sebelumnya telah secara jelas menyebutkan adanya unsur iklan komersial tersebut. Artinya, begitu ada uang atau barang gratis yang berpindah, keterbukaan itu jadi kewajiban, bukan pilihan sopan santun.
Pertanyaan penyaringnya cuma satu: apakah orang ini menerima sesuatu dari kamu karena membuat kontennya? Kalau jawabannya iya, dalam bentuk uang, barang gratis, diskon khusus, atau komisi, konten itu iklan dan wajib dinyatakan sebagai iklan. Kalau tidak ada sama sekali, barulah itu UGC.
Alasannya bukan karena pembeli lebih pintar memotret. Justru sebaliknya. Foto pembeli menang karena tampak tidak disiapkan. Cahayanya lampu ruang tamu, latarnya meja makan yang belum dibereskan, tangan yang memegang produk memberi ukuran yang tidak bisa dibohongi. Semua ketidaksempurnaan itu jadi bukti bahwa barangnya nyata dan pernah sampai ke rumah orang.
Ada satu pertanyaan yang selalu ada di kepala calon pembeli daring dan jarang ditanyakan terang-terangan: apakah barangnya sama dengan fotonya. Katalog tidak bisa menjawab itu, karena katalog memang dibuat oleh penjual. Foto dari pembeli lain menjawabnya tanpa perlu satu kata pun. Efek yang sama berlaku untuk makanan. Foto porsi asli yang dipotret pembeli di meja warung memberi informasi yang tidak bisa diberikan foto studio dengan pencahayaan rapi.
Google sendiri menegaskan hal serupa di panduan resminya soal ulasan. Bantuan Google Profil Bisnis menyebut bahwa ulasan yang jujur dan seimbang membantu calon pelanggan mengambil keputusan, dan perpaduan masukan positif dan negatif sering kali terasa lebih tepercaya. Itu poin yang sering ditolak pemilik usaha, padahal masuk akal. Deretan bintang lima tanpa satu pun keluhan terbaca seperti sesuatu yang diatur.
Tetapi jangan berlebihan menilai kekuatannya. UGC tidak memperbaiki produk yang memang bermasalah, tidak menutupi ongkos kirim yang kemahalan, dan tidak menggantikan deskripsi produk yang lengkap. Kalau pembeli batal karena bahan tidak dijelaskan atau ukuran tidak dicantumkan, sepuluh foto pelanggan pun tidak menolong. UGC menutup keraguan terakhir, bukan lubang di dasar keranjang. Cara mengumpulkan ulasan di profil bisnis digital secara tertib dibahas lebih jauh di panduan Google review untuk usaha.
Kesalahan paling umum adalah meminta di waktu yang salah. Banyak penjual mengirim permintaan ulasan beberapa menit setelah paket tercatat sampai, padahal orangnya mungkin belum sempat membuka kotaknya. Yang lain meminta saat pembeli masih di lokasi warung, sambil ditunggui. Dua-duanya menghasilkan penolakan halus berupa jawaban "nanti ya" yang tidak pernah ada lanjutannya.
Waktu terbaik adalah saat rasa puasnya sedang di puncak, yaitu satu sampai tiga hari setelah barang dipakai. Untuk makanan, puncaknya justru beberapa menit setelah dimakan. Untuk pakaian, setelah dicuci sekali dan terbukti tidak luntur. Untuk alat, setelah dipakai seminggu. Sesuaikan dengan produkmu, jangan pakai satu jadwal untuk semua.
| Momen | Kalimat Pembuka | Yang Kamu Minta | Yang Jangan Dilakukan |
|---|---|---|---|
| Pembeli mengirim foto sendiri ke chat | "Fotonya bagus, makasih ya sudah dikirim" | Izin memakai foto itu di etalase toko | Langsung memasangnya karena merasa sudah dikirim ke kamu |
| Dua hari setelah barang diterima | "Sudah dicoba belum? Ada yang kurang pas tidak?" | Kabar apa adanya dulu, baru foto kalau dia senang | Membuka percakapan langsung dengan permintaan ulasan |
| Pembeli menandai akunmu di Story | "Baru lihat Story-nya, boleh aku simpan?" | Izin menyimpan dan memasang ulang di akunmu | Menangkap layar diam-diam lalu memakainya besok |
| Pembeli kembali memesan kedua kalinya | "Senang kamu pesan lagi, ini yang keberapa ya?" | Satu kalimat pendek boleh dikutip sebagai testimoni | Menulis testimoni sendiri lalu meminta orangnya menyetujui |
| Pembeli menyampaikan keluhan lalu beres | "Sudah aman ya sekarang, maaf sempat merepotkan" | Tidak meminta apa pun, cukup pastikan masalahnya selesai | Meminta ulasan tepat setelah menyelesaikan komplain |
| Pelanggan lama yang sudah akrab | "Boleh minta tolong satu hal kecil?" | Video pendek belasan detik, apa adanya, tanpa naskah | Mengirim naskah lengkap yang harus dibaca persis |
Perhatikan pola di kolom kedua. Semua kalimat pembuka itu bertanya kabar dulu, bukan langsung meminta. Alasannya bukan sekadar sopan santun. Kalau kamu bertanya kabar dan jawabannya ternyata kecewa, kamu baru saja menghindari permintaan ulasan yang akan berujung bintang dua. Bertanya duluan itu penyaring, bukan basa-basi.
Sekarang bagian yang sering dilanggar tanpa sadar: memberi imbalan. Kebijakan konten Google untuk kontribusi pengguna menyatakan bahwa kontribusi ke Google Maps harus merefleksikan pengalaman sebenarnya, dan penjual tidak diizinkan menawarkan insentif berupa pembayaran, diskon, atau barang dan layanan gratis sebagai imbalan atas ulasan. Halaman yang sama juga menyebut bahwa penjual tidak boleh mencegah atau melarang ulasan negatif, tidak boleh secara selektif meminta ulasan positif saja, dan saat meminta ulasan tidak boleh mewajibkan atau menekan pengguna untuk memberi rating sewaktu masih berada di lokasi. Panduan Google Profil Bisnis menyebut praktik memberi imbalan seperti ini sebagai interaksi palsu yang dilarang keras.
Spanduk bertuliskan "tulis ulasan bintang lima, dapat es teh gratis" terlihat ramah dan banyak dipakai warung. Tetapi menurut kebijakan Google, imbalan berupa barang gratis atau diskon sebagai balasan atas ulasan tergolong interaksi palsu, dan profil bisnis bisa terkena pembatasan. Kalau mau memberi hadiah, berikan untuk pembeliannya, bukan untuk ulasannya, dan jangan dikaitkan sama sekali.
Lalu apa yang boleh? Boleh mengingatkan. Google justru menyarankan pemilik usaha meminta pelanggan membuka tautan ulasan atau memindai kode QR sebagai cara memperoleh ulasan. Boleh juga mempermudah, misalnya menempel kode QR di meja kasir atau menyelipkan kartu kecil di dalam paket. Yang tidak boleh adalah menukar ulasan dengan sesuatu, menyaring siapa yang boleh menulis, dan menentukan isi yang harus ditulis.
Kalau pembeli mengirim foto tetapi wajahnya kelihatan dan dia ragu ditampilkan, tawarkan dua pilihan sekaligus di satu pesan: dipasang utuh dengan namanya, atau dipotong sebatas produk tanpa wajah dan tanpa nama. Memberi pilihan membuat orang jauh lebih mudah bilang boleh, karena dia tidak merasa sedang menyerahkan kendali sepenuhnya.
Ini bagian yang paling sering dilewati, dan justru yang paling mahal kalau salah. Anggapan umumnya begini: kalau pembeli mengirim foto ke chat toko, berarti foto itu sudah jadi milik toko. Anggapan itu keliru. Mengirim foto adalah memberi kamu salinan, bukan memberi kamu hak untuk menyiarkannya.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mendefinisikan hak cipta pada Pasal 1 angka 1 sebagai hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata. Kata otomatis di situ berarti tidak perlu didaftarkan dulu. Begitu pembeli menekan tombol rana di ponselnya, hak cipta atas foto itu langsung melekat pada dirinya tanpa surat apa pun. Undang-undang yang sama memasukkan karya fotografi, potret, dan karya sinematografi ke dalam daftar ciptaan yang dilindungi pada Pasal 40 ayat (1), jadi foto dan video kiriman pembeli jelas termasuk di dalamnya.
Dari situ ada dua izin yang berbeda dan sering dikira satu. Izin pertama datang dari orang yang memotret, sebagai pemegang hak cipta. Naskah undang-undang itu menyebutkan pada Pasal 9 ayat (2) bahwa setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi atas suatu ciptaan wajib mendapatkan izin pencipta atau pemegang hak cipta, dan pada ayat (3) melarang penggandaan atau penggunaan secara komersial tanpa izin tersebut. Undang-undang yang sama juga mendefinisikan lisensi pada Pasal 1 sebagai izin tertulis untuk melaksanakan hak ekonomi atas suatu ciptaan dengan syarat tertentu.
Izin kedua datang dari orang yang ada di dalam foto. Dan inilah aturan yang paling sering dilanggar pelaku usaha kecil di Indonesia.
Setiap orang dilarang melakukan penggunaan secara komersial, penggandaan, pengumuman, pendistribusian, dan/atau komunikasi atas potret yang dibuatnya guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya. Kalau di dalam potret itu ada dua orang atau lebih, persetujuan wajib diminta dari semua orang yang ada di dalamnya. Undang-undang ini mendefinisikan potret sebagai karya fotografi dengan objek manusia, dan Pasal 115 mengancam pelanggarannya dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00.
Baca ulang dua kata di situ: persetujuan tertulis. Bukan persetujuan lisan, bukan anggukan waktu ketemu di kasir, bukan asumsi karena orangnya sudah memposting duluan di akun pribadinya. Untuk pemakaian yang sifatnya iklan, undang-undang meminta bentuk tertulis. Kabar baiknya, chat WhatsApp berisi jawaban "boleh kak, silakan dipakai" adalah bentuk tertulis yang tersimpan lengkap dengan tanggalnya. Jadi syarat ini tidak sulit dipenuhi, asal kamu benar-benar bertanya.
Ada lapisan ketiga yang jarang dibahas, yaitu data pribadi. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi memasukkan nama lengkap ke dalam kategori data pribadi yang bersifat umum pada Pasal 4 ayat (3), dan naskahnya menyebutkan pada Pasal 20 ayat (2) huruf a bahwa salah satu dasar pemrosesan data pribadi adalah persetujuan yang sah secara eksplisit dari subjek data untuk satu atau beberapa tujuan tertentu yang telah disampaikan sebelumnya. Terjemahan praktisnya untuk usaha kecil: kalau kamu menangkap layar chat testimoni, tutup nomor telepon dan nama kontaknya, kecuali orangnya memang setuju ditampilkan. Bantuan Google Profil Bisnis juga mengingatkan agar pemilik usaha tidak pernah membagikan info pribadi pengulas saat membalas ulasan.
| Bentuk Konten | Siapa Pemegang Haknya | Izin yang Perlu Diminta | Kesalahan yang Umum Terjadi |
|---|---|---|---|
| Foto produk tanpa wajah, dikirim lewat chat | Pembeli, sebagai pemotret | Izin memakai dari pembeli | Dianggap milik toko karena dikirim ke toko |
| Foto pembeli memakai produk, wajah terlihat | Pemotret dan orang yang ada di foto | Izin pemotret plus persetujuan tertulis orang yang dipotret | Dipasang di iklan hanya bermodal izin lisan |
| Foto berisi beberapa orang, misalnya acara keluarga | Pemotret dan setiap orang di dalam foto | Persetujuan dari semua orang yang ada di dalamnya | Cukup meminta izin ke satu orang saja |
| Video membuka paket yang diunggah ke akun pembeli | Pembeli, sebagai pembuat video | Izin mengunggah ulang, sebutkan akan dipasang di mana | Diunduh lalu diunggah ulang tanpa memberi tahu |
| Ulasan tertulis di halaman marketplace | Penulis ulasan, dan platform punya ketentuannya sendiri | Izin mengutip kalau dipindah ke media lain | Ditangkap layar lengkap dengan nama akun dan foto profil |
| Tangkapan layar chat berisi pujian | Penulis pesan | Izin mengutip, plus tutup nomor dan nama kalau tidak disetujui | Nomor telepon pembeli ikut terlihat di unggahan |
| Foto yang kamu potret sendiri saat pembeli datang | Kamu sebagai pemotret, tetapi orangnya tetap punya hak atas potretnya | Persetujuan tertulis orang yang difoto untuk pemakaian iklan | Merasa aman karena kamera dan fotonya milik sendiri |
Perhatikan baris terakhir, karena itu jebakan yang jarang disadari. Foto pelanggan yang kamu potret sendiri di depan warung memang fotomu dari sisi hak cipta, tetapi orang di dalamnya tetap punya hak atas potretnya. Kamera milikmu tidak menghapus hak orang lain atas wajahnya.
Etika Pariwara Indonesia menambahkan satu syarat yang selaras dengan ini. Aturan tentang kesaksian konsumen di dokumen tersebut menyebutkan bahwa kesaksian konsumen harus merupakan kejadian yang benar-benar dialami oleh konsumen terkait dan tidak melebih-lebihkannya, harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh konsumen tersebut, serta pemberian kesaksian hanya dapat dilakukan atas nama perorangan dan bukan mewakili lembaga atau kelompok. Untuk usaha kecil, versi paling ringan dari syarat itu adalah menyimpan chat izinnya, bukan menghapusnya setelah kontennya terpasang.
Praktiknya cukup satu pesan yang memuat tiga hal: konten yang mana, akan dipasang di mana saja, dan namanya ditulis atau disamarkan. Contohnya begini. "Kak, foto yang kemarin dikirim bagus banget. Boleh saya pasang di etalase Shopee dan Instagram toko? Namanya mau ditulis atau cukup inisial saja?" Tiga kalimat, dan izinnya sudah memenuhi bentuk tertulis lengkap dengan lingkup pemakaiannya. Kalau nanti kamu mau memakainya untuk hal lain, misalnya dicetak jadi spanduk, minta izin lagi untuk pemakaian baru itu.
Foto dikirim ke chatmu bukan berarti foto itu jadi milikmu. Hak ciptanya tetap di tangan yang memotret, dan kalau ada wajah orang di dalamnya lalu dipakai untuk iklan, undang-undang meminta persetujuan tertulis dari orang tersebut. Satu chat berisi izin yang kamu simpan menyelesaikan dua urusan itu sekaligus.
Setelah izinnya beres, pertanyaan berikutnya adalah dipasang di mana. Urutannya sebaiknya dari tempat yang paling dekat dengan keputusan membeli, bukan dari tempat yang paling ramai.
Di marketplace, tempat paling berguna adalah bagian bawah deskripsi produk. Foto utama tetap pakai foto katalog yang bersih, karena itu yang muncul di hasil pencarian dan menentukan orang mengklik atau tidak. Foto pelanggan diletakkan sesudahnya, sebagai bukti pendukung. Di beberapa kategori, menempatkan foto pelanggan sebagai gambar utama justru menurunkan minat klik, karena di antara puluhan hasil pencarian yang rapi, foto rumahan terlihat seperti barang bekas.
Di Instagram, tempat terbaik bukan feed melainkan sorotan Story yang diberi judul jelas seperti "Kata Pembeli" atau "Sudah Sampai". Orang yang sedang menimbang biasanya membuka profil lebih dulu, dan sorotan adalah barisan pertama yang mereka lihat. Di WhatsApp, kumpulkan lima sampai delapan konten terbaik dalam satu album yang bisa kamu kirim cepat saat ada yang bertanya "ada yang pernah beli belum kak". Di TikTok, unggah ulang video pembeli dengan izin, dan tetap sebutkan bahwa videonya dibuat oleh pembeli. Jangan diakui sebagai produksi sendiri, karena itu mencabut satu-satunya keunggulan UGC, yaitu keaslian.
Untuk usaha yang punya tempat fisik, ada satu tempat lagi yang sering terlewat: dinding. Cetak empat sampai enam foto pelanggan, tempel di dekat kasir, dan biarkan orang yang antre membacanya. Ini bekerja untuk warung, salon, bengkel, dan tempat kursus. Bahannya sama, medianya saja yang berbeda dari layar. Bagaimana konten semacam ini masuk ke dalam rencana konten yang lebih besar dibahas di panduan content marketing untuk usaha kecil.
Sekarang soal mengukur. Jangan mengukur UGC dengan jumlah suka atau jumlah penonton, karena dua angka itu tidak menjelaskan apa pun tentang penjualan. Tiga angka berikut lebih berguna dan bisa dicatat tanpa alat berbayar. Pertama, berapa konten pelanggan yang masuk bulan ini, dihitung dari chat, ulasan, tag, dan komentar. Kedua, berapa di antaranya yang benar-benar kamu mintakan izin dan dijawab boleh. Ketiga, berapa banyak pertanyaan berulang yang hilang setelah UGC dipasang.
Angka ketiga itu yang paling jarang dipakai padahal paling jujur. Kalau sebelum memasang foto pelanggan kamu menerima sepuluh pertanyaan "aslinya sama tidak kak" per minggu, lalu setelah dipasang tinggal tiga, kamu baru saja menghemat tujuh percakapan per minggu sekaligus menghapus tujuh alasan orang batal. Catat jumlah pertanyaan berulang itu selama empat minggu sebelum dan empat minggu sesudah.
Cara ujinya sederhana dan hampir gratis. Ambil satu produk yang penjualannya stabil. Bulan pertama biarkan halamannya apa adanya, catat berapa pesanan masuk dan berapa pertanyaan yang datang. Bulan kedua tambahkan satu blok berisi tiga sampai lima foto pelanggan di bawah deskripsi, jangan ubah apa pun yang lain. Catat lagi angkanya. Syaratnya cuma satu: jangan sekaligus mengubah harga, foto utama, atau judul produk di bulan yang sama, karena kalau tiga hal berubah bersamaan kamu tidak akan pernah tahu mana yang bekerja.
Terakhir, rawat alirannya supaya tidak berhenti. UGC punya sifat yang berbeda dari iklan. Iklan berhenti begitu anggaran habis, sedangkan UGC berhenti begitu kamu berhenti meminta. Buat kebiasaan kecil: setiap Jumat sore, buka chat seminggu terakhir, cari kiriman foto atau kalimat pujian, lalu kirim satu pesan permintaan izin. Sepuluh menit per minggu sudah cukup untuk menjaga persediaannya tidak kering.
Bedanya di ada tidaknya imbalan. UGC dibuat pembeli yang membayar dengan uangnya sendiri dan tidak menerima apa pun dari kamu karena membuat kontennya. Endorse dibuat orang yang kamu bayar, kamu kirimi barang gratis, atau kamu janjikan komisi. TikTok memasukkan keempat hal itu, yaitu pembayaran, barang hadiah, komisi penjualan, dan hubungan komersial seperti brand ambassador, ke dalam definisi konten berlabel komersial yang wajib dinyatakan sebagai iklan. Jadi begitu ada sesuatu yang berpindah dari kamu ke pembuat konten, itu bukan lagi UGC.
Tidak boleh tanpa izin. Mengirim foto ke chat berarti memberi kamu salinan, bukan menyerahkan hak ciptanya. Hak cipta atas foto melekat otomatis pada orang yang memotret sejak fotonya dibuat, dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 mewajibkan izin pemegang hak cipta sebelum ciptaannya dipakai secara komersial. Minta izinnya lewat satu pesan singkat, simpan jawabannya, baru pasang. Prosesnya cuma butuh satu menit dan menghilangkan seluruh risikonya.
Minta persetujuan tertulis dari orang yang ada di foto itu, bukan cuma dari yang memotret. Pasal 12 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 melarang pemakaian potret untuk kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya, dan kalau di dalam foto ada dua orang atau lebih, persetujuannya harus diminta dari semua orang di dalamnya. Chat WhatsApp berisi jawaban "boleh dipakai" sudah memenuhi bentuk tertulis, jadi simpan percakapannya.
Untuk ulasan di Google, tidak boleh. Kebijakan konten Google menyatakan penjual tidak diizinkan menawarkan insentif berupa pembayaran, diskon, atau barang dan layanan gratis sebagai imbalan atas ulasan, dan panduan Google Profil Bisnis menyebut praktik itu sebagai interaksi palsu yang dilarang keras serta dapat berujung pembatasan profil. Yang boleh adalah mengingatkan dan mempermudah, misalnya lewat tautan ulasan atau kode QR. Kalau mau memberi hadiah, berikan atas pembeliannya dan jangan dikaitkan dengan ulasan.
Mulai dari ulasan tertulis, bukan foto. Ulasan lebih mudah diberikan karena tidak menuntut orang menyiapkan apa pun. Hubungi lima pembeli terakhirmu satu per satu, tanyakan kabar produknya lebih dulu, dan baru minta ulasan kalau jawabannya positif. Setelah beberapa ulasan terkumpul, biasanya foto menyusul dengan sendirinya, karena orang yang sudah pernah menulis ulasan lebih santai saat diminta mengirim foto.
Boleh saja, dan di Indonesia jasa semacam itu memang ada, tetapi hasilnya bukan UGC melainkan iklan bergaya UGC. Kalau kamu memakainya, perlakukan sebagai konten berbayar: nyatakan unsur komersialnya sesuai kebijakan platform, jangan tampilkan sebagai kesaksian pembeli asli, dan pastikan isinya tidak melebih-lebihkan. Menyamarkan konten berbayar sebagai kesaksian pelanggan asli berisiko dua kali, yaitu melanggar aturan platform dan menghilangkan kepercayaan yang jadi alasan kamu memilih gaya itu sejak awal.
Mulai dari tempat yang paling dekat dengan keputusan membeli. Di marketplace, foto pelanggan diletakkan sebagai pendukung di bawah deskripsi, sementara foto utama tetap foto katalog yang bersih. Di Instagram, pakai sorotan Story berjudul jelas seperti "Kata Pembeli". Di WhatsApp, siapkan satu album berisi lima sampai delapan konten terbaik untuk dikirim saat ada yang bertanya, dan untuk usaha bertempat fisik, cetak beberapa foto pelanggan di dekat kasir. Selalu sebutkan bahwa kontennya dibuat pembeli.
UGC adalah konten yang dibuat pembeli sendiri tentang produkmu, lalu kamu pakai ulang setelah mendapat izin. Kekuatannya bukan pada kualitas gambar, melainkan pada kenyataan bahwa pembuatnya tidak dibayar dan tidak diarahkan. Begitu ada uang, barang gratis, diskon, atau komisi yang berpindah dari kamu ke pembuatnya, konten itu berubah jadi iklan dan wajib dinyatakan sebagai iklan.
Urutan kerjanya sederhana. Kumpulkan dulu apa yang sudah ada di chat dan kolom ulasanmu, karena hampir semua usaha yang sudah berjalan enam bulan punya bahan yang belum dipakai. Minta izin lewat satu pesan yang menyebut konten yang mana, akan dipasang di mana, dan namanya ditulis atau disamarkan. Simpan jawabannya. Kalau di dalam konten ada wajah orang dan pemakaiannya bersifat iklan, undang-undang meminta persetujuan tertulis, dan chat yang tersimpan sudah memenuhi bentuk itu.
Setelah terpasang, ukur dengan tiga angka yang bisa ditulis tangan: berapa konten masuk, berapa yang berizin, dan berapa pertanyaan berulang yang hilang. Uji satu produk dulu dan jangan mengubah harga atau foto utama di bulan yang sama, supaya hasilnya bisa dibaca. Lalu jaga alirannya dengan kebiasaan sepuluh menit tiap Jumat sore. Kalau kamu ingin menyusun urutan permintaan izin dan daftar tempat pemasangannya sesuai jenis usahamu, kamu bisa diskusi dengan mentor AI Teman Usaha sambil membawa contoh konten yang sudah kamu kumpulkan.
Kalau kamu sedang menyusun rencana usaha, masukkan poin-poin ini ke bisnis plan yang bisa kamu buat lewat generator Teman Usaha.
SOP perusahaan mengunci urutan kerja tetap untuk satu proses. Pahami tujuh bagian wajibnya, dua contoh siap salin, dan cara membuatnya sungguh dipakai.
WhatsApp Business adalah aplikasi gratis untuk usaha. Pahami fitur katalog, pesan otomatis, label pelanggan, serta bedanya dengan WhatsApp biasa dan API.
Tips jualan di Shopee biar laris: rapikan daftar produk sesuai Standar Produk, naikkan nilai belanja, kejar target Penjual Star, baru pakai promosi berbayar.