Blog · 21 Agustus 2026

Break Even Point: Rumus dan Cara Menghitung BEP Usaha

Break even point adalah titik impas saat pendapatan menutup semua biaya. Pahami rumus BEP unit dan rupiah plus contoh perhitungannya.

Break Even Point: Rumus dan Cara Menghitung BEP Usaha

Break even point adalah titik ketika total pendapatan usahamu persis sama dengan total biaya, jadi kamu belum untung tetapi juga belum rugi. Di titik inilah seluruh biaya operasional sudah tertutup penjualan, dan setiap gelas kopi, potong rambut, atau bungkus keripik berikutnya yang laku baru mulai menjadi laba bersih. Break even point sering disebut titik impas, dan menghitungnya termasuk latihan keuangan paling penting sebelum kamu membuka usaha, menetapkan harga jual, atau memutuskan menambah karyawan.

Artikel ini membedah break even point dari nol untuk kamu yang baru merintis usaha: apa saja komponennya (biaya tetap, biaya variabel, harga jual per unit, dan margin kontribusi), rumus BEP unit dan BEP rupiah, contoh perhitungan warung kopi langkah demi langkah, simulasi di beberapa skenario harga, sampai cara memakai angka BEP untuk mengambil keputusan harga dan target penjualan. Semua rumus di sini adalah rumus akuntansi standar, dan setiap contoh angka sudah dihitung ulang supaya kamu bisa langsung meniru polanya untuk usahamu sendiri.

Apa Itu Break Even Point dan Kenapa Wajib Kamu Hitung

Secara sederhana, break even point adalah kondisi ketika pendapatan dari penjualan sama persis dengan seluruh biaya yang kamu keluarkan, baik biaya tetap maupun biaya variabel. Belum ada laba, tetapi juga belum ada kerugian. Ibaratnya kamu baru selesai menutup modal operasional pada periode itu. Begitu penjualan lewat dari titik ini, barulah usahamu mencetak untung; kalau masih di bawahnya, kamu nombok.

Buat pelaku UMKM, angka ini bukan sekadar teori akuntansi. BEP menjawab pertanyaan yang paling sering bikin calon pengusaha deg-degan: berapa sih minimal yang harus aku jual biar tidak rugi? Tanpa jawaban itu, kamu menjalankan usaha sambil menebak-nebak. Dengan tahu BEP, kamu punya target penjualan yang jelas, tahu apakah harga jualmu sudah masuk akal, dan bisa mengukur apakah sebuah ide usaha layak dijalankan sebelum uangmu benar-benar keluar. Itu sebabnya analisis titik impas hampir selalu ada di dalam sebuah studi kelayakan bisnis.

Satu hal yang sering rancu di kepala pemula: break even point tidak sama dengan balik modal. Titik impas dihitung per periode, biasanya per bulan, dan hanya membandingkan pendapatan dengan biaya di periode itu. Balik modal, atau payback period, berbicara soal kapan akumulasi keuntungan menutup modal awal yang kamu pakai untuk membeli alat dan membuka usaha. Warung yang sudah mencapai titik impas tiap bulan belum tentu sudah balik modal, karena investasi awalnya baru tertutup pelan-pelan dari laba. Di artikel ini kita fokus ke titik impas operasional, karena angka itulah yang paling sering kamu pakai untuk keputusan harian. Kalau kamu masih menyusun kebutuhan dana awal, hitung dulu di panduan modal usaha.

Empat Komponen yang Menyusun Break Even Point

Sebelum menghitung, kamu perlu paham empat bahan bakunya. Kalau salah menggolongkan biaya, hasil BEP-nya ikut meleset, dan target penjualanmu jadi keliru.

1. Biaya tetap (fixed cost). Ini biaya yang jumlahnya tidak berubah walau kamu jualan banyak atau sedikit, bahkan saat sepi sekalipun. Contohnya sewa tempat, gaji bulanan karyawan tetap, langganan internet, dan penyusutan peralatan. Mau kopi yang laku 10 gelas atau 500 gelas dalam sebulan, sewa ruko tetap harus dibayar sama besar.

2. Biaya variabel (variable cost). Kebalikannya, biaya ini naik turun mengikuti jumlah yang kamu produksi atau jual. Setiap gelas kopi butuh biji kopi, susu, gula, gelas, dan sedotan. Makin banyak yang terjual, makin besar totalnya. Biaya variabel per unit erat kaitannya dengan harga pokok produksi; kalau kamu belum yakin cara memisahkannya dari biaya lain, pelajari dulu cara menghitung HPP supaya angka biaya variabelmu akurat.

3. Harga jual per unit. Harga yang kamu pasang untuk satu unit produk. Komponen ini yang paling sering diutak-atik pengusaha, dan pengaruhnya ke BEP besar sekali, seperti yang akan kamu lihat di bagian simulasi nanti.

4. Margin kontribusi. Inilah bintang utama perhitungan BEP. Margin kontribusi per unit adalah selisih antara harga jual per unit dan biaya variabel per unit. Angka ini menunjukkan berapa rupiah dari setiap unit yang terjual yang tersisa untuk menutup biaya tetap dan, setelah biaya tetap itu tertutup, berubah menjadi laba. Kalau harga jual kopi Rp15.000 dan biaya variabelnya Rp6.000, margin kontribusinya Rp9.000 per gelas.

Supaya konkret, ini rincian biaya warung kopi yang akan kita pakai sepanjang artikel:

Rincian biaya tetap dan biaya variabel warung kopi Kopi Kita (per bulan)
Jenis biayaKomponenNilai
Biaya tetapSewa tempatRp2.000.000
Biaya tetapGaji 1 baristaRp1.800.000
Biaya tetapListrik, air, internetRp700.000
Biaya tetapPenyusutan mesin dan peralatanRp500.000
Total biaya tetapper bulanRp5.000.000
Biaya variabelBiji kopi, susu, gulaRp4.000
Biaya variabelGelas, tutup, sedotanRp1.500
Biaya variabelKemasan dan lain-lainRp500
Total biaya variabelper gelasRp6.000

Membedakan biaya tetap dan variabel jadi jauh lebih gampang kalau catatanmu rapi. Ini alasan lain kenapa pembukuan usaha kecil yang sederhana itu penting sejak hari pertama buka.

Pro Tip

Kalau ragu sebuah biaya masuk tetap atau variabel, tanyakan satu hal: apakah biaya ini muncul kalau hari itu kamu tidak jualan satu pun? Kalau tetap muncul (sewa, gaji tetap), itu biaya tetap. Kalau baru muncul saat ada penjualan (bahan baku, kemasan), itu biaya variabel. Gaji karyawan harian yang dibayar hanya saat masuk kerja bisa masuk area abu-abu, jadi golongkan sesuai kenyataan di usahamu.

Rumus BEP Unit dan BEP Rupiah

Ada dua cara menyatakan break even point, dan keduanya memakai bahan yang sama. Pilih mana yang lebih pas dengan pertanyaan yang ingin kamu jawab.

BEP dalam unit menjawab pertanyaan berapa banyak produk yang harus terjual. Rumusnya:

  • BEP (unit) = Biaya Tetap dibagi (Harga Jual per unit dikurangi Biaya Variabel per unit)
  • Atau, karena penyebutnya adalah margin kontribusi: BEP (unit) = Biaya Tetap dibagi Margin Kontribusi per unit

BEP dalam rupiah menjawab pertanyaan berapa nilai penjualan yang harus tercapai. Rumusnya:

  • BEP (rupiah) = Biaya Tetap dibagi Rasio Margin Kontribusi
  • Rasio Margin Kontribusi = Margin Kontribusi per unit dibagi Harga Jual per unit
Anatomi rumus break even point: BEP unit sama dengan biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit, BEP rupiah sama dengan biaya tetap dibagi rasio margin kontribusi, dan margin kontribusi sama dengan harga jual dikurangi biaya variabel
Anatomi dua rumus BEP dan margin kontribusi yang menjadi penyebutnya.

Kapan pakai yang mana? Kalau produkmu satu jenis dan gampang dihitung per satuan (gelas, porsi, potong), BEP unit lebih intuitif karena langsung menjadi target jual sekian biji. Kalau produkmu banyak jenis dengan harga berbeda-beda, BEP rupiah lebih praktis karena kamu cukup mengejar angka omzet total tanpa harus memisah-misah per produk. Untuk kasus banyak produk, rasio margin kontribusinya dihitung sebagai rata-rata tertimbang dari seluruh produk, lalu biaya tetap dibagi rasio itu.

Intinya

Kunci BEP ada di margin kontribusi, yaitu harga jual dikurangi biaya variabel per unit. BEP unit = biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit. BEP rupiah = biaya tetap dibagi rasio margin kontribusi. Makin besar margin kontribusi, makin sedikit yang harus kamu jual untuk impas.

Contoh Menghitung BEP Warung Kopi Langkah demi Langkah

Sekarang kita pakai angka warung Kopi Kita tadi. Ingat datanya: biaya tetap Rp5.000.000 per bulan, harga jual Rp15.000 per gelas, dan biaya variabel Rp6.000 per gelas. Ikuti empat langkah ini.

Langkah 1: hitung margin kontribusi per unit. Margin kontribusi = harga jual dikurangi biaya variabel = Rp15.000 dikurangi Rp6.000 = Rp9.000 per gelas. Artinya, dari setiap gelas yang terjual, ada Rp9.000 yang tersedia untuk menutup biaya tetap. Rasio margin kontribusinya = Rp9.000 dibagi Rp15.000 = 0,6 atau 60 persen.

Langkah 2: hitung BEP dalam unit. BEP unit = biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit = Rp5.000.000 dibagi Rp9.000 = 555,56. Karena kamu tidak bisa menjual setengah gelas, angka ini dibulatkan ke atas menjadi 556 gelas per bulan. Itulah jumlah minimal gelas yang harus laku supaya warung tidak rugi.

Langkah 3: hitung BEP dalam rupiah. BEP rupiah = biaya tetap dibagi rasio margin kontribusi = Rp5.000.000 dibagi 0,6 = Rp8.333.333. Jadi warung harus mengumpulkan omzet sekitar Rp8,33 juta per bulan untuk mencapai titik impas. Angka ini cocok dengan hitungan unit tadi: 555,56 gelas dikali Rp15.000 juga menghasilkan Rp8.333.333.

Langkah 4: ubah menjadi target harian. Kalau warung buka setiap hari, target sebulan tinggal dibagi 30. 556 gelas dibagi 30 hari = sekitar 19 gelas per hari. Angka harian seperti ini jauh lebih mudah dipantau daripada target bulanan yang terasa abstrak.

Empat kartu hasil hitung BEP warung kopi: margin kontribusi Rp9.000 per gelas, BEP 556 gelas per bulan, BEP Rp8,33 juta, dan target sekitar 19 gelas per hari
Ringkasan hasil perhitungan BEP warung kopi Kopi Kita.

Coba buktikan sendiri bahwa titik ini benar-benar impas. Di angka 555,56 gelas, pendapatannya Rp8.333.333. Biaya variabelnya 555,56 gelas dikali Rp6.000 = Rp3.333.333, ditambah biaya tetap Rp5.000.000, totalnya Rp8.333.333. Pendapatan dan total biaya sama persis, jadi labanya nol. Itulah yang dimaksud titik impas.

Simulasi BEP di Beberapa Skenario Harga

Komponen yang paling gampang kamu ubah adalah harga jual, dan efeknya ke BEP dramatis. Tabel di bawah memakai biaya tetap yang sama (Rp5.000.000) dan biaya variabel yang sama (Rp6.000 per gelas), hanya harga jualnya yang berbeda-beda.

Simulasi BEP warung kopi di empat harga jual (biaya tetap Rp5.000.000, biaya variabel Rp6.000/gelas)
Harga jual/gelas Margin kontribusi Rasio margin BEP (gelas/bulan) BEP (rupiah/bulan)
Rp12.000Rp6.00050%834Rp10.000.000
Rp15.000Rp9.00060%556Rp8.333.333
Rp18.000Rp12.00067%417Rp7.500.000
Rp20.000Rp14.00070%358Rp7.142.857

Perhatikan polanya. Saat harga naik dari Rp12.000 ke Rp20.000, margin kontribusi melebar dari Rp6.000 ke Rp14.000, dan jumlah gelas yang harus terjual untuk impas anjlok dari 834 ke 358 gelas. Menaikkan harga Rp5.000 saja bisa memangkas target penjualanmu ratusan gelas. Grafik berikut memperlihatkan bagaimana garis pendapatan dan garis total biaya bertemu di titik impas pada skenario harga Rp15.000.

Grafik titik impas warung kopi: garis pendapatan yang lebih curam memotong garis total biaya di titik 556 gelas atau Rp8,33 juta, memisahkan area rugi di kiri dan area untung di kanan
Di kiri titik potong kamu masih rugi, di kanannya baru untung. Titik potongnya adalah break even point.
!
Menaikkan harga bukan tombol ajaib

Tabel di atas seolah menyuruh kamu terus menaikkan harga karena BEP-nya makin rendah. Kenyataannya tidak semudah itu. Harga yang terlalu tinggi bisa menurunkan jumlah pembeli, sehingga BEP yang rendah pun tidak tercapai. BEP hanya menghitung sisi biaya, bukan seberapa banyak orang mau membeli di harga itu. Selalu padukan hitungan BEP dengan pemahaman soal daya beli pasar; lakukan riset pasar sederhana sebelum memutuskan harga baru.

Cara Memakai BEP untuk Keputusan Harga, Target, dan Diskon

Angka BEP baru berguna kalau dipakai untuk mengambil keputusan. Ini beberapa cara paling praktis memanfaatkannya.

Menetapkan target penjualan. Titik impas adalah lantai, bukan tujuan akhir. Kamu tentu mau untung, bukan sekadar impas. Untuk itu tambahkan target laba ke dalam rumus: unit yang dibutuhkan = (biaya tetap ditambah target laba) dibagi margin kontribusi per unit. Misalnya Kopi Kita menargetkan laba bersih Rp3.100.000 per bulan, maka unitnya = (Rp5.000.000 ditambah Rp3.100.000) dibagi Rp9.000 = Rp8.100.000 dibagi Rp9.000 = 900 gelas. Setara omzet Rp13.500.000 per bulan, atau 30 gelas per hari.

Dari titik impas ke target laba di warung Kopi Kita (margin kontribusi Rp9.000/gelas)
KondisiPenjualan (gelas/bulan)Omzet/bulanTarget harian
Titik impas (laba Rp0)556Rp8.333.333± 19 gelas
Target laba Rp3.100.000900Rp13.500.00030 gelas

Mengukur seberapa aman usahamu (margin of safety). Setelah tahu BEP, kamu bisa menghitung seberapa jauh penjualanmu berada di atas titik impas. Kalau warung biasanya menjual 800 gelas per bulan sementara BEP-nya 556 gelas, margin of safety-nya = (800 dikurangi 556) dibagi 800 = 0,305, atau sekitar 30 persen. Artinya penjualan boleh turun sampai 30 persen sebelum kamu mulai merugi. Makin besar angkanya, makin aman usahamu saat pasar sedang sepi.

Menghitung batas aman diskon. Ini yang sering luput. Diskon boleh saja, asal harga setelah diskon tetap di atas biaya variabel. Kalau Kopi Kita memberi diskon 40 persen, harga jual turun jadi Rp9.000, masih di atas biaya variabel Rp6.000, tetapi margin kontribusinya menyusut jadi Rp3.000 dan BEP-nya melonjak ke 1.667 gelas (Rp5.000.000 dibagi Rp3.000). Kalau diskonnya 60 persen, harga jadi Rp6.000 sama dengan biaya variabel, margin kontribusi nol, dan warung tidak akan pernah impas berapa pun banyaknya yang terjual. Diskon di atas itu berarti rugi tiap gelas.

Mengecek kelayakan ide baru. Sebelum menambah menu atau membuka cabang, hitung dulu berapa BEP-nya. Kalau target penjualan untuk impas terasa mustahil dicapai dengan kapasitas dan lokasimu, itu sinyal untuk menahan diri atau menekan biaya dulu.

Terakhir, ingat batasan BEP. Rumus ini mengasumsikan harga jual dan biaya per unit konstan, padahal di dunia nyata harga bahan baku bisa naik dan ada diskon grosir. BEP juga bukan gambaran arus kas; usaha bisa terlihat impas di atas kertas tetapi tetap kesulitan uang tunai karena pembayaran pelanggan telat. Karena itu, pakai BEP berdampingan dengan pemantauan arus kas usaha dan kebiasaan mengatur keuangan usaha yang rapi. Untuk merinci kebutuhan modal dan biaya awalmu, kamu bisa langsung mencobanya di kalkulator modal usaha Teman Usaha.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bedanya break even point dan balik modal?

Break even point atau titik impas dihitung per periode dan membandingkan pendapatan dengan biaya operasional di periode itu, biasanya per bulan. Balik modal atau payback period menghitung kapan akumulasi laba menutup seluruh modal awal yang kamu keluarkan untuk membuka usaha. Sebuah usaha bisa sudah impas tiap bulan tetapi belum balik modal, karena investasi awalnya baru tertutup sedikit demi sedikit dari laba.

Bagaimana menghitung BEP kalau produkku banyak jenis?

Untuk usaha dengan banyak produk berbeda harga, cara paling praktis adalah memakai BEP rupiah. Hitung rasio margin kontribusi rata-rata tertimbang dari seluruh produk, lalu bagi total biaya tetap dengan rasio itu. Hasilnya adalah target omzet total, bukan jumlah unit per produk, sehingga kamu tidak perlu memisah-misah target tiap barang.

Apakah BEP sama dengan HPP?

Tidak. HPP atau harga pokok produksi adalah total biaya untuk membuat satu unit produk, dan biasanya menjadi bagian dari biaya variabel. BEP adalah titik jumlah penjualan ketika seluruh biaya, baik tetap maupun variabel, tertutup pendapatan. HPP adalah salah satu bahan untuk menghitung BEP, bukan hal yang sama.

Berapa BEP yang ideal untuk usaha kecil?

Tidak ada angka BEP ideal yang berlaku untuk semua usaha, karena tergantung biaya tetap, harga, dan margin masing-masing. Yang penting bukan angka absolutnya, melainkan apakah BEP itu realistis dicapai dengan kapasitas dan pasarmu. BEP yang jauh di bawah rata-rata penjualan harianmu menandakan usaha relatif aman; BEP yang sulit dicapai menandakan biaya perlu ditekan atau harga perlu ditinjau.

Apakah gaji saya sebagai pemilik masuk hitungan BEP?

Sebaiknya iya, kalau kamu benar-benar bekerja penuh di usaha itu. Masukkan gaji pemilik yang wajar sebagai biaya tetap supaya BEP mencerminkan kondisi sebenarnya. Kalau gajimu tidak dihitung, usaha bisa terlihat untung padahal sebenarnya kamu sedang mensubsidi usaha dengan tenaga tanpa bayaran.

Apakah cicilan pinjaman diperhitungkan dalam BEP?

Bunga pinjaman umumnya masuk sebagai biaya tetap karena harus dibayar tiap periode tanpa memandang omzet. Namun pokok pinjaman idealnya tidak dihitung sebagai biaya di rumus BEP, sebab itu pengembalian modal, bukan biaya operasional. Pastikan arus kasmu cukup untuk membayar pokok cicilan dari laba di atas titik impas.

Seberapa sering BEP perlu dihitung ulang?

Hitung ulang setiap kali ada perubahan besar pada biaya atau harga, misalnya sewa naik, harga bahan baku melonjak, kamu menambah karyawan, atau kamu mengubah harga jual. Minimal, tinjau BEP sekali setiap beberapa bulan supaya target penjualanmu tetap sesuai dengan kondisi biaya terbaru.

Kesimpulan

Break even point adalah titik ketika pendapatan sama dengan total biaya, dan menghitungnya memberimu target penjualan yang jelas sekaligus alat untuk menilai harga, diskon, dan kelayakan ide. Kuncinya cuma satu konsep: margin kontribusi, yaitu harga jual dikurangi biaya variabel per unit. Dari situ, BEP unit adalah biaya tetap dibagi margin kontribusi, dan BEP rupiah adalah biaya tetap dibagi rasio margin kontribusi. Contoh warung kopi tadi menunjukkan hasilnya bisa langsung diterjemahkan menjadi target harian yang mudah dipantau, seperti 19 gelas untuk impas dan 30 gelas untuk mencapai laba yang kamu targetkan.

Saran saya sebelum kamu buka usaha atau menaikkan harga: hitung BEP-nya dulu, lalu jujur menilai apakah target itu realistis dengan pasar dan kapasitasmu. Kalau masih bingung memisahkan biaya atau menentukan target labamu, kamu bisa ngobrol dengan mentor AI Teman Usaha kapan saja, gratis, atau merinci kebutuhan biayamu lebih dulu lewat kalkulator modal usaha.

Sumber

Tim Teman Usaha

Ditulis oleh tim Teman Usaha, AI mentor bisnis untuk calon pengusaha dan UMKM. Rujukan resmi dicek sebelum terbit. Kenalan dengan kami

Baca juga

Artikel terkait